UKT(uang kuliah tunggal) larinya kemana sih?
Itulah yang ada di benak para mahasiswa karena saat ini dan sejak lama, mahasiswa lama dan mahasiswa baru merasakan ketidaklayakan terhadap sarana pendidikan yang ada di kampus mereka masing-masing. Saya sebagai salah satu mahasiswa yang ada di universitas Mulawarman merasakan hal itu. Mulai dari hal yang terkecil saja, kursi. Saat ini yang saya dan teman-teman keluhkan adalah kursi. Kurangnya kursi yang tidak sesuai kuota mahasiswa yang sedemikian banyaknya menjadi keluhan kami. Dan pikiran kami beralih ke UKT kami yang tau lari kemana. Kami bahkan berpikir buruk tentang adanya koruptor di universitas Mulawarman ini. Mungkin, beberapa orang yang membaca ini sedikit panas karena bacaan ini sebenarnya kritikal untuk universitas Mulawarman yang banyak sekali fasilitas tidak layak pakai bahkan tidak dimiliki.
Beberapa mahasiswa yang sering saya dengar mengeluhkan tentang kerugian yang ia dapatkan plus plus. Mulai dari kursi tak layak pakai tadi, dosen yang jarang masuk kelas dan dosen yang tidak efektif dalam memberikan nilai. Apa maksudnya? Maksudnya ialah, nilai yang didapat tidak sebanding dengan usaha yang mahasiswa upayakan. Misalkan, si A anak yang rajin belajar, ujian tidak mencontek, selalu rajin bertanya ketika tidak tahu, selalu mendengarkan ketika dosen menjelaskan, tidak pernah terlambat, dll. Dan mahasiswa B adalah kebalikan nya. Tapi sikap dosen yang tidak efektif memberikan nilai ini justru menjadikan si A mendapatkan nilai buruk dan B mendapatkan nilai baik. Sangat tidak adil. Ini bukan soal iri/dengki. Tapi, soal dari sisi mana dosen memberi penilaian. Ini adalah sepersekian persen saja dari ketidaknyamanan para mahasiswa. Dan keluhan mahasiswa tentang kerugian membayar ukt itu wajar saja. Karena yang ia beri tidak sebanding dengan yang ia dapatkan.
Mungkin catatan di blog ini sedikit sensitif. Tidak ada maksud untuk memperburuk keadaan atau menjelek-jelekkan siapapun. Ini hanya catatan kecil dan keluhan mahasiswa yang sedikit tertekan dengan keadaan.
Itulah yang ada di benak para mahasiswa karena saat ini dan sejak lama, mahasiswa lama dan mahasiswa baru merasakan ketidaklayakan terhadap sarana pendidikan yang ada di kampus mereka masing-masing. Saya sebagai salah satu mahasiswa yang ada di universitas Mulawarman merasakan hal itu. Mulai dari hal yang terkecil saja, kursi. Saat ini yang saya dan teman-teman keluhkan adalah kursi. Kurangnya kursi yang tidak sesuai kuota mahasiswa yang sedemikian banyaknya menjadi keluhan kami. Dan pikiran kami beralih ke UKT kami yang tau lari kemana. Kami bahkan berpikir buruk tentang adanya koruptor di universitas Mulawarman ini. Mungkin, beberapa orang yang membaca ini sedikit panas karena bacaan ini sebenarnya kritikal untuk universitas Mulawarman yang banyak sekali fasilitas tidak layak pakai bahkan tidak dimiliki.
Beberapa mahasiswa yang sering saya dengar mengeluhkan tentang kerugian yang ia dapatkan plus plus. Mulai dari kursi tak layak pakai tadi, dosen yang jarang masuk kelas dan dosen yang tidak efektif dalam memberikan nilai. Apa maksudnya? Maksudnya ialah, nilai yang didapat tidak sebanding dengan usaha yang mahasiswa upayakan. Misalkan, si A anak yang rajin belajar, ujian tidak mencontek, selalu rajin bertanya ketika tidak tahu, selalu mendengarkan ketika dosen menjelaskan, tidak pernah terlambat, dll. Dan mahasiswa B adalah kebalikan nya. Tapi sikap dosen yang tidak efektif memberikan nilai ini justru menjadikan si A mendapatkan nilai buruk dan B mendapatkan nilai baik. Sangat tidak adil. Ini bukan soal iri/dengki. Tapi, soal dari sisi mana dosen memberi penilaian. Ini adalah sepersekian persen saja dari ketidaknyamanan para mahasiswa. Dan keluhan mahasiswa tentang kerugian membayar ukt itu wajar saja. Karena yang ia beri tidak sebanding dengan yang ia dapatkan.
Mungkin catatan di blog ini sedikit sensitif. Tidak ada maksud untuk memperburuk keadaan atau menjelek-jelekkan siapapun. Ini hanya catatan kecil dan keluhan mahasiswa yang sedikit tertekan dengan keadaan.
Komentar
Posting Komentar